Pencarian

PGEO Siapkan Listrik Panas Bumi untuk Data Center dan AI, Pilot Project di Kamojang

Selasa, 08 September 2026 • 10:22:31 WIB
PGEO Siapkan Listrik Panas Bumi untuk Data Center dan AI, Pilot Project di Kamojang
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Ahmad Yani menyampaikan paparan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (7/9/2025).

KALIMANTAN SELATAN — Lonjakan transformasi digital di Indonesia menuntut pasokan listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga ramah lingkungan. Pusat data dan AI memiliki kebutuhan energi spesifik: stabil selama 24 jam dan bersih—karakteristik yang sulit dipenuhi oleh sumber energi terbarukan yang sifatnya intermiten seperti matahari atau angin.

Panas bumi menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menegaskan bahwa energi domestik ini mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu dan sangat cocok menjadi tulang punggung green data center.

“Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (7/9).

Pilot Project di Kamojang dan Strategi Beyond Electricity

PGEO tidak hanya berhenti pada wacana. Perusahaan tengah mengkaji pengembangan elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini dirancang sebagai pilot project untuk menguji model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, hingga menyiapkan pasar.

Inisiatif ini masuk dalam strategi besar perusahaan bernama Beyond Electricity. Strategi tersebut juga mencakup elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, hingga layanan teknologi dan laboratorium.

Melalui strategi ini, PGEO berupaya menciptakan permintaan baru terhadap energi panas bumi sekaligus mempercepat pemanfaatan potensi yang selama ini belum terserap optimal.

Dukungan Regulasi yang Dibutuhkan

Ahmad Yani menyebut pengembangan data center berbasis EBT membutuhkan dukungan dari berbagai aspek. Regulasi tarif perlu disempurnakan agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi. Pemanfaatan insentif fiskal dan green financing juga perlu diperluas.

Selain itu, sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan, power purchase agreement (PPA), dan target commercial operation date (COD) harus diperkuat. PGEO juga menyelaraskan strateginya dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan pusat data dan panas bumi nasional.

Target Kapasitas Hingga 2034

Dari sisi kapasitas, PGEO menargetkan penambahan sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 1,8 GW pada 2034. Target tersebut ditopang portofolio sumber daya sekitar 3 GW yang dioptimalkan melalui pipeline proyek yang telah disiapkan.

Pengembangan ini selaras dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi panas bumi sebesar 5,2 GW dalam RUPTL. “Hal ini juga mendukung cita-cita Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030,” kata Ahmad Yani.

Langkah PGEO ini menempatkan perusahaan di posisi strategis dalam rantai pasok ekonomi digital nasional. Dengan sumber daya panas bumi melimpah, Indonesia memiliki modal kuat untuk menarik investasi pusat data yang membutuhkan energi hijau andal.

Follow www.halobanjarmasin.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks