MARABAHAN — Puluhan personel gabungan dari Pemkab Barito Kuala, Polres Barito Kuala, serta relawan pemadam kebakaran Kecamatan Jejangkit dan Mandastana terlibat langsung dalam uji coba tersebut. Bupati H. Bahrul Ilmi hadir didampingi Sekretaris Daerah Selamat Riyanto, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aris Saputera, dan Kapolres Barito Kuala Susilawati.
Surfaktan yang diuji merupakan inovasi sekaligus bantuan dari Polda Kalimantan Selatan. Bahan itu menggunakan dasar minyak nabati, seperti turunan Metil Ester Sulfonat (MES), yang dirancang membantu air membasahi lapisan gambut lebih cepat.
Mengapa Air Biasa Sulit Menembus Bara di Lahan Gambut
Kebakaran lahan gambut berbeda dari kebakaran permukaan biasa. Bara api bisa bertahan di lapisan bawah tanah, tidak terlihat dari atas, dan terus menyala meski permukaan sudah disiram air.
Surfaktan bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan air sehingga cairan lebih mudah meresap ke dalam tanah. Di permukaan, campuran ini juga membentuk lapisan busa yang membantu menahan air lebih lama.
Dalam penerapannya, surfaktan dicampur dengan air lalu disuntikkan ke dalam tanah menggunakan peat injector. Alat itu berupa pipa tajam yang ditancapkan ke permukaan tanah untuk mengalirkan campuran langsung ke titik bara di bawah permukaan.
Api di Jejangkit Dipadamkan sampai Lapisan Bawah
Bupati Bahrul Ilmi menilai hasil uji coba di Desa Cahaya Baru menunjukkan metode ini menjangkau titik api yang selama ini sulit dipadamkan dengan cara konvensional.
"Setelah dilakukan uji coba, surfaktan terlihat efektif memadamkan api hingga bawah permukaan tanah. Mudahan penggunaan surfaktan membuat kejadian karhutla semakin menurun dan masyarakat tidak terlalu lama terdampak," ujar Bahrul Ilmi.
Menurutnya, surfaktan dan peat injector dari Polda Kalsel menjadi tambahan metode dalam menghadapi karhutla yang masih terjadi di Barito Kuala.
Polres Batola Siapkan Surfaktan untuk Kecamatan Lain
Polres Barito Kuala berencana memanfaatkan surfaktan tidak hanya di Jejangkit. Sejumlah kecamatan lain masuk dalam rencana penanganan, terutama lokasi yang titik apinya mulai mendekati permukiman warga.
Pemkab Barito Kuala berharap pemanfaatan teknologi tersebut memperkuat upaya penanganan karhutla, khususnya untuk mengatasi bara api di lahan gambut yang sulit dipadamkan dengan metode konvensional.