Pencarian

ULM Banjarmasin Siapkan Relawan Berpengalaman dan Asesmen Khusus untuk 23 Peserta UTMBK Disabilitas 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 • 14:27:01 WIB
ULM Banjarmasin Siapkan Relawan Berpengalaman dan Asesmen Khusus untuk 23 Peserta UTMBK Disabilitas 2026
Relawan berpengalaman ULM siap mendampingi 23 peserta UTMBK Disabilitas 2026 dengan asesmen khusus.

BANJARMASIN — Langkah ULM menjadi kampus inklusif di Kalimantan Selatan kembali diuji. Pada pelaksanaan UTMBK Jalur Disabilitas, kampus negeri itu mengerahkan relawan yang telah memiliki pengalaman mendampingi peserta berkebutuhan khusus. Bukan sekadar pengawas ruang, mereka dilatih untuk berkomunikasi dan merespons kebutuhan masing-masing peserta.

Asesmen Kebutuhan Sebelum Ujian Dimulai

Setiap peserta tidak langsung masuk ruang ujian. Mereka terlebih dahulu menjalani asesmen khusus untuk memetakan jenis disabilitas dan akomodasi yang diperlukan. Mulai dari format soal braille, perangkat lunak pembaca layar, hingga pendamping personal selama ujian berlangsung.

Pendekatan ini berbeda dari ujian reguler. ULM ingin memastikan tidak ada hambatan teknis yang mengganggu konsentrasi peserta. “Kami tidak hanya membuka pintu, tapi memastikan mereka bisa masuk dan duduk dengan nyaman,” ujar panitia pelaksana saat ditemui di lokasi.

Relawan Bukan Sekadar Pengawas

Relawan yang diterjunkan telah melalui pembekalan khusus. Mereka tahu kapan harus membantu tanpa membuat peserta merasa terganggu. Beberapa di antaranya adalah mahasiswa psikologi dan pendidikan luar biasa yang sudah terbiasa berinteraksi dengan penyandang disabilitas.

Pengawalan ketat ini berlangsung sejak peserta tiba di lobi gedung hingga selesai ujian. Setiap ruang ujian dijaga oleh setidaknya dua relawan yang siap siaga. Tidak ada peserta yang dibiarkan sendiri saat mengalami kesulitan teknis pada komputer ujian.

Ekosistem, Bukan Sekadar Kuota

Selama ini, banyak kampus hanya memenuhi kewajiban menyediakan kuota bagi penyandang disabilitas tanpa menyiapkan infrastruktur pendukung. ULM mencoba mematahkan pola itu. Dengan menyediakan asesmen awal dan relawan terlatih, mereka membangun sistem yang lebih manusiawi.

“Ini investasi jangka panjang. Semakin banyak mahasiswa disabilitas yang lulus, semakin besar kontribusi mereka ke masyarakat,” tambah panitia.

Langkah ini diharapkan menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Kalimantan Selatan. Sebab, inklusivitas tidak cukup di atas kertas—ia perlu dijalankan di ruang ujian, di meja komputer, dan di setiap interaksi antara peserta dan pendamping.

Bagikan
Sumber: redaksi8.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks