BANJARBARU — Kawasan konservasi seluas ribuan hektare di kaki Pegunungan Meratus itu menjadi rumah bagi puluhan spesies dilindungi. Mulai dari rusa, beruang madu, kukang, landak, owa-owa, burung rangkong badak, binturung, buaya, hingga trengiling yang pernah dilepasliarkan di alam terbuka.
Empat Pilar Pengelolaan Kawasan
Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra menyebutkan setidaknya ada empat pilar utama dalam penguatan pengelolaan Tahura Sultan Adam. Pertama, perlindungan habitat satwa secara ketat. Kedua, rehabilitasi kawasan yang mengalami degradasi. Ketiga, dukungan terhadap pelepasliaran satwa liar sesuai aturan. Keempat, pengembangan ekowisata berbasis konservasi.
“Tahura Sultan Adam memiliki fungsi strategis sebagai habitat berbagai jenis satwa sekaligus kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan ekowisata di Kalimantan Selatan,” ujar Fathimatuzzahra di Banjarbaru, Rabu.
Mengapa Evaluasi Ini Diperlukan?
Evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh pengelolaan konservasi satwa berjalan sesuai prinsip pelestarian. Dishut Kalsel tidak ingin fungsi kawasan sebagai habitat alami satwa liar tergerus oleh aktivitas ilegal atau degradasi lingkungan.
“Upaya tersebut untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mempertahankan kelestarian satwa beserta habitat alaminya,” kata Fathimatuzzahra.
Peran Masyarakat dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan
Menurut dia, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan kawasan. Dukungan masyarakat dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penentu agar perlindungan keanekaragaman hayati berlangsung secara berkelanjutan.
Dishut Kalsel pun gencar melakukan edukasi konservasi ke desa-desa penyangga kawasan hutan. Penanaman pohon dan kampanye pelestarian sumber daya alam terus digalakkan untuk menekan perburuan liar serta perambahan kawasan hutan.
Satwa Dilindungi yang Bisa Dijumpai Pengunjung
Di kawasan konservasi Tahura Sultan Adam, pengunjung dapat menemui berbagai jenis satwa yang dilindungi karena langka maupun yang masih terjaga populasinya. Selain rusa yang kerap diberi makan oleh pengunjung, ada beruang madu, kukang, landak, owa-owa, burung rangkong badak, binturung, buaya, hingga satwa endemik lainnya.
Beberapa jenis burung dilindungi dan trengiling juga pernah dilepasliarkan di alam terbuka dalam kawasan tersebut. Dishut Kalsel berharap penguatan pengelolaan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan dapat menjaga Tahura Sultan Adam tetap berfungsi sebagai kawasan konservasi yang melindungi keanekaragaman hayati sekaligus memberikan manfaat bagi pendidikan, penelitian, dan pengembangan ekowisata di Kalimantan Selatan.