KALIMANTAN SELATAN — Penyanyi folk Sam Burton merilis album ketiga Fairweather Friend lewat label Captured Tracks setelah nyaris kehilangan segalanya demi membiayai rekaman. Album 11 lagu itu lahir dari proses panjang yang menguras tabungannya hingga ia harus pindah dari rumahnya di Los Angeles. Burton menyebut seluruh pengorbanan materiil itu sepadan dengan hasil akhirnya.
Sam Burton mengakui bahwa ia benar-benar kehabisan uang untuk menyelesaikan Fairweather Friend. Musisi 35 tahun tersebut harus meninggalkan rumahnya di Los Angeles dan menumpang di kediaman teman-temannya sebelum sempat kembali ke rumah keluarganya di Utah.
Fairweather Friend adalah album ketiga Burton setelah Dear Departed yang dirilis pada 2023. Ia menyebut Dear Departed sebagai kegagalan komersial, dan keputusannya berpisah dengan label Partisan dianggapnya sebagai jalan keluar bersama.
Ditinggal Label hingga Rekaman Lima Studio
Burton mengaku mendapat aturan tak lazim dari label sebelumnya. Menurutnya, Partisan melarangnya membuat musik folk. "Salah satu aturan mereka adalah kamu tidak boleh membuat musik folk," ujarnya kepada Rolling Stone. "Dan aku berpikir, 'Aku bahkan tidak tahu apa artinya itu.'"
Setelah bergabung dengan Captured Tracks, Burton kembali bekerja sama dengan produser Jonathan Wilson yang juga menggarap Dear Departed. Ia merekam ulang 11 lagu berkali-kali, bahkan mengaku memotong lagu utamanya di lima studio berbeda dengan lima band berbeda.
Anggaran kali ini jauh lebih kecil. Burton sampai harus memproduseri sebagian album sendiri di studio drummernya, Pierce Gibson, di kawasan Echo Park. "Aku benar-benar kehilangan segalanya untuk membiayai rekaman ini," katanya. "Dan aku benar-benar mencurahkan semua yang kumiliki ke dalamnya."
Kecelakaan Mobil yang Nyaris Merenggut Nyawa
Perubahan besar dalam diri Burton juga dipicu insiden mengerikan pada 2022. Saat mengantar bandnya pulang dari pertunjukan di sekitar St. George, Utah, sebuah mobil melaju kencang banting setir ke jalurnya untuk menghindari mobil polisi yang terparkir. Burton menginjak rem, mobilnya berputar dan menabrak kendaraan polisi tersebut.
Ia menyebut banyak keajaiban terjadi dalam kecelakaan itu. Petugas polisi kebetulan sedang berada di luar mobilnya dan berhasil melompati pagar pembatas, sementara sebuah besi di tengah van menyelamatkan nyawa mereka. "Kalau kami menabrak dengan sudut berbeda, kami semua sudah mati," ujarnya.
Meski bukan kesalahannya, Burton diliputi rasa bersalah dan mengalami serangan panik setiap kali berada di jalan. Konflik dengan seorang rekan band yang ikut dalam kecelakaan itu berujung perpisahan. "Dia sangat marah padaku, jadi kami berpisah," kenangnya. "Aku sangat mengaguminya."
Kritik Pedas yang Jadi Bahan Bakar
Sebelum semua itu, Burton sempat merasakan kerasnya ulasan media saat menjadi pembuka tur Weyes Blood di Inggris dan Eropa pada awal 2023. Sebuah blog musik di Manchester memuji suaranya yang dalam, tetapi mengkritik kemeja flanelnya, minimnya interaksi panggung, dan lagu-lagunya yang dinilai terlalu muram.
Alih-alih patah arang, Burton menjadikan kritik itu bahan bakar. Ia belajar gitar dengan mengamati penampilan akustik Neil Young dan Bert Jansch, lalu mulai melempar lelucon dan mengobrol dengan penonton. "Aku berpikir, aku akan jadi diriku sendiri saja," tuturnya.
Sebagai warga Palestina-Amerika, Burton juga menyoroti sikap musisi Los Angeles yang menurutnya enggan bersuara soal konflik Israel-Gaza. Kekecewaan itu ikut mewarnai suasana emosional album, terutama di lagu seperti "Picture People" dan "After Days Slip Away".
Fairweather Friend kini tersedia lewat Captured Tracks dan disebut sebagai salah satu album folk paling memikat tahun ini. Bagi Burton, proses berat di baliknya justru menjadi pembeda antara dirinya di dua album terakhir.