Honda Resmi Produksi Baterai untuk Data Center, Tinggalkan Rencana EV di AS

Penulis: Sofyan Basri  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 02:32:01 WIB
Honda resmi memproduksi baterai untuk data center di pabrik joint venture Ohio, AS.

KALIMANTAN SELATAN — Keputusan Honda mengalihkan produksi baterai dari kendaraan listrik ke penyimpanan energi komersial diumumkan lewat laporan Nikkei Asia, Selasa (15/4). Pabrik yang menjadi lokasi produksi adalah fasilitas joint venture Honda dengan LG Energy Solution di Ohio, AS — pabrik yang sebelumnya direncanakan memproduksi baterai untuk tiga model EV Honda yang batal diluncurkan di pasar Amerika.

Pasar Baterai Stasioner Tumbuh 32%

Peralihan ini bukan tanpa alasan. Pasar stationary storage alias baterai stasioner untuk gedung dan jaringan listrik sedang melesat. Menurut laporan SEIA dan Benchmark Minerals, pasar ini tumbuh 32% year-on-year. Pada kuartal pertama tahun ini saja, sistem penyimpanan energi terpasang mencapai 9,7 gigawatt-hour — setara baterai untuk 120.000 unit EV.

Proyeksi ke depan juga tak kalah mencengangkan. Pada akhir dekade ini, kapasitas penyimpanan energi yang dipasang per tahun diperkirakan menyentuh 110 gigawatt-hour, hampir tiga kali lipat dari ukuran pasar saat ini.

Margin Baterai Stasioner Dua Kali Lipat dari Mobil

Bisnis baterai untuk penyimpanan energi terbukti menggiurkan. Tesla, yang menguasai pangsa pasar terbesar lewat produk Megapack dan Powerwall, mencatat margin laba kotor 30% dari lini bisnis ini — sekitar dua kali lipat margin dari penjualan kendaraannya. Honda jelas tak mau ketinggalan.

Mayoritas baterai stasioner saat ini dipasang di pusat data, namun sebagian besar lainnya terhubung ke jaringan listrik umum. Dengan harga baterai yang terus turun, sistem ini kini banyak dipakai untuk menstabilkan pasokan listrik dari pembangkit tenaga surya dan angin yang sifatnya intermiten.

Penyebab Honda Membatalkan EV di AS

Langkah dramatis Honda mundur dari pasar EV Amerika dipicu oleh beberapa faktor. Permintaan mobil listrik di AS melambat setelah pencabutan kredit pajak untuk EV oleh pemerintahan GOP. Banyak konsumen mempercepat pembelian mereka sebelum insentif itu dihapus pada September tahun lalu, sehingga penjualan tahun ini turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampaknya, Honda mencatatkan kerugian write-down sebesar USD 15,7 miliar (sekitar Rp 259 triliun) pada tahun fiskal lalu, sebagian besar untuk merestrukturisasi strategi EV-nya. Bisnis Honda di China yang terus melemah, sementara pasar EV di sana justru melesat, turut memperburuk posisi keuangan perusahaan.

Meski membatalkan program EV di AS, Honda tidak membubarkan joint venture dengan LG Energy Solution. Alih-alih memproduksi baterai untuk mobil, pabrik di Ohio itu kini menjadi garda depan Honda di bisnis penyimpanan energi yang jauh lebih stabil permintaannya.

Apa Artinya bagi Konsumen?

Bagi pengguna di Indonesia, pergeseran strategi Honda ini tidak berdampak langsung dalam waktu dekat — Honda masih menjual mobil hybrid dan ICE di pasar lokal. Namun, langkah ini menegaskan tren global: baterai tidak lagi hanya soal kendaraan listrik, tapi juga infrastruktur energi. Semakin banyak pabrikan otomotif yang memilih "ikut arus" ke bisnis energi ketimbang memaksakan diri di pasar EV yang masih penuh ketidakpastian.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top