DPRD Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menerima peluncuran tiga buku yang mengangkat sejarah kota dalam rapat paripurna peringatan hari jadi ke-500 pada 24 September 2026. Ketua DPRD Kota Banjarmasin Rikval Fachruri menilai ketiga buku itu merekam perjalanan kota dari masa ke masa, termasuk sejarah pembangunan, adat istiadat, dan kehidupan masyarakatnya. Kota yang berdiri 24 September 1526 ini tercatat lebih tua satu tahun dari Jakarta dan tumbuh bersama sungai hingga dikenal sebagai Kota Seribu Sungai.
BANJARMASIN — Rapat paripurna DPRD Kota Banjarmasin menjadi ajang peluncuran tiga buku yang disusun khusus menyambut hari jadi ke-500 kota tersebut. Ketiga karya itu diserahkan dan diterima langsung dalam forum dewan yang digelar sebagai bagian dari puncak perayaan Harjad ke-500 Kota Banjarmasin.
Rikval Fachruri menyebut ketiga buku itu bukan sekadar produk penerbitan, melainkan upaya merekam jejak panjang kota. Ia menilai banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana, mulai dari sejarah berdirinya kota pada 24 September 1526 hingga dinamika kehidupan warga dari generasi ke generasi.
Buku pertama berjudul "Buku 500 Tahun Kota Banjarmasin" karya Mansyur dan Wajidi. Buku kedua berjudul "Saudagar" karya Bagong Tidarta Trikadibusana dan Muhammad Achdyani.
Adapun buku ketiga adalah "Antologi Puisi 500 Tahun Kota Banjarmasin" karya Hajriansyah. Ketiga judul itu mencakup pendekatan berbeda: sejarah kota, kisah perdagangan, dan puisi.
"Kami sangat mengapresiasi atas karya buku-buku ini," ujar Rikval.
Rikval menyoroti bahwa buku-buku tersebut juga memuat sejarah pembangunan kota, adat istiadat, dan aspek kehidupan masyarakat lainnya. Menurut dia, sebagai kota tua yang lebih tua satu tahun dari Jakarta, Banjarmasin menyimpan sejarah panjang yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Dengan adanya tiga buku ini, para penerus kita akan selalu mengingat sejarah daerahnya," ujarnya.
Ia menggambarkan Banjarmasin tumbuh bersama sungai-sungai hingga dijuluki Kota Seribu Sungai. Kota ini juga berkembang dari kampung-kampung dan perdagangan berkat kerja keras masyarakatnya, serta tumbuh bersama nilai agama, budaya Banjar, dan semangat kebersamaan warga.
Rikval mengingatkan bahwa kota yang dinikmati warga saat ini bukan hasil kerja satu generasi saja. Ia menyebut ada keringat orang terdahulu, doa para ulama, perjuangan para pemimpin, hingga peran guru, pedagang, tenaga kesehatan, dan petugas kebersihan yang membangun kota dari masa ke masa.
"Banjarmasin yang kita nikmati hari ini bukan kerja keras kita saja, namun ada keringat orang terdahulu, ada doa para ulama, ada perjuangan para pemimpin, ada tangan guru yang mendidik, ada pedagang yang menggerakkan ekonomi, ada tenaga kesehatan, ada petugas kebersihan dan lainnya membangun kota ini dari generasi ke generasi," ucap Rikval.
Peluncuran ketiga buku itu menjadi bagian dari rangkaian puncak perayaan Harjad ke-500 Kota Banjarmasin yang jatuh pada 24 September 2026.