KALIMANTAN SELATAN — Rencana pemberian subsidi kendaraan listrik yang terus molor sepanjang tahun ini berdampak nyata pada pasar roda dua. Alih-alih melakukan transaksi, sebagian besar calon pembeli yang datang ke diler justru hanya mencari kepastian terkait potongan harga dari pemerintah.
Ketua Umum Aismoli, Budi Setyadi, mengakui situasi ini menjadi faktor utama perlambatan penjualan. Banyak konsumen yang sudah datang ke dealer dan bertanya-tanya, tetapi pada akhirnya urung membeli.
"Faktor utama karena masyarakat banyak yang nunggu subsidi," kata Budi Setyadi saat dihubungi Rabu (2/9).
"Banyak yang dateng, tanya-tanya, terus ngobrol sesuatu yang menyangkut subsidi," sambungnya.
Data Aismoli mencatat realisasi penjualan motor listrik hingga Agustus 2026 baru mencapai 19 ribu unit. Angka ini masih jauh dari target yang dicanangkan sebesar 60 ribu unit untuk satu tahun penuh, alias masih kurang 41 ribu unit dalam empat bulan terakhir.
Jika dibandingkan dengan capaian tahun lalu, pasar juga mengalami kontraksi. Untuk sekadar menyamai total penjualan tahun sebelumnya, industri masih membutuhkan tambahan 36 ribu unit lagi hingga akhir Desember.
Budi menyebut para produsen yang tergabung dalam Aismoli saat ini tidak punya banyak opsi selain menunggu kepastian regulasi dari pemerintah.
"Ya sifatnya sekarang hanya menunggu," ujarnya.
Rencana insentif kendaraan listrik ini memang sudah beberapa kali mengalami penundaan. Pada awal Mei, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengumumkan pemerintah menyiapkan insentif untuk total 200 ribu unit kendaraan listrik—terdiri dari 100 ribu unit mobil dan 100 ribu unit sepeda motor—dengan target implementasi Juni.
Jadwal tersebut kemudian mundur ke Juli. Menjelang akhir Juni, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kemungkinan besar implementasi digeser lagi ke Agustus karena regulasi masih dikaji.
Penundaan berlanjut hingga akhirnya wacana menyebut subsidi bakal berlaku mulai September 2026. Namun hingga kini, beleid yang ditunggu-tunggu tersebut belum juga menunjukkan titik terang.
Ketidakpastian ini membuat diler dan konsumen berada dalam posisi saling menunggu. Di satu sisi, calon pembeli menahan uang untuk mendapatkan diskon; di sisi lain, agen pemegang merek kesulitan menjaga momentum penjualan di tengah pasar yang lesu.