KALIMANTAN SELATAN — Momen penyerahan KTA itu berlangsung di hadapan ribuan kiai dan warga nahdliyin. Prabowo, yang sejak awal memenuhi janji hadir di penutupan, tampak menerima kartu anggota yang menandakan afiliasi formalnya dengan organisasi berjaringan terbesar di Indonesia itu.
Kehadiran Prabowo menjadi tonggak baru hubungan istana dengan ormas keagamaan. Terakhir kali presiden menutup muktamar NU adalah Soekarno pada 1962, masa yang jauh berbeda secara konstelasi politik.
Sejak awal berdirinya, NU memang memiliki ikatan erat dengan perjalanan bangsa. Namun, hubungan presiden dan organisasi ini tak selalu mulus di masa Orde Baru maupun Reformasi. Langkah Prabowo memberi sinyal penguatan kemitraan strategis antara eksekutif dan basis massa tradisional Islam.
Dalam sambutannya, Prabowo menilai muktamar kali ini berjalan sukses, guyub, dan rukun. Menurut dia, NU memberi contoh bahwa perbedaan dan kompetisi sehat bisa berjalan berdampingan di organisasi dengan puluhan juta anggota, ribuan pesantren, dan puluhan ribu kiai.
Pernyataan itu relevan dengan proses pemilihan yang baru saja selesai. Muktamar memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, menggantikan KH Yahya Cholil Staquf. Adapun KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin sebagai Rais Aam untuk periode yang sama.
Prabowo menyampaikan selamat kepada dua tokah yang baru terpilih. Ia menegaskan bahwa negara, bangsa, dan umat menantikan darma bakti NU pada hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun yang akan datang.
Ia juga menekankan bahwa kehadirannya adalah bentuk penghormatan negara atas peran ulama dan warga nahdliyin dalam menjaga persatuan, merawat kehidupan beragama, serta turut mengawal perjalanan Republik Indonesia.
Ketua umum terpilih kesempatan itu lantas menutup resmi rangkaian muktamar dengan memukul kentongan khas pesantren. Bunyi kentongan itu menjadi simbol berakhirnya sidang sekaligus harapan agar semangat guyub dan pengabdian terus menjadi kekuatan membangun Indonesia.
Secara terpisah, sejumlah pengamat menilai langkah Prabowo menyambangi Jombang dan menerima KTA NU memiliki dampak politik jangka panjang, terutama dalam menjaga stabilitas sosial menjelang agenda politik nasional berikutnya. Meski begitu, tidak ada pernyataan resmi dari istana soal implikasi politik keanggotaan tersebut.