Gunung Ungaran Simpan Panas Bumi 55 MW, Proyek Listrik Hijau Target COD 2031

Penulis: Toni Haryadi  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:09:01 WIB
Pengeboran eksplorasi panas bumi di Gunung Ungaran dijadwalkan mulai akhir 2028 untuk membuktikan potensi 55 MW.

KALIMANTAN SELATAN — Gunung Ungaran selama ini lebih dikenal sebagai destinasi pendakian favorit warga Semarang dan sekitarnya. Di balik jalur hijau dan udara sejuknya, kawasan seluas 29.800 hektare ini menyimpan cadangan energi panas bumi yang serius untuk dikembangkan.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah menyebut potensi di kawasan ini mampu menopang pembangkit listrik dengan kapasitas hingga 55 MW. Angka ini setara kontribusi sekitar 4-5 persen terhadap bauran energi baru terbarukan (EBT) di provinsi tersebut.

Mengapa Butuh Waktu Hingga 2028?

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan Dinas ESDM Jawa Tengah, Dwi Suryono, menjelaskan bahwa proses untuk membuktikan potensi ini tidak bisa dilakukan secara instan. Tahapan paling krusial adalah pengeboran eksplorasi dengan kedalaman sumur mencapai 1.900 hingga 2.200 meter.

“Untuk membuktikan adanya potensi panas bumi, perlu dilakukan pengeboran. Namun, tentunya seluruh fase-fase perizinan harus terpenuhi. Jika sesuai timeline, maka pengeboran akan dilakukan pada akhir 2028, atau di awal 2029,” ujar Dwi dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Sebelum pengeboran dimulai, pemerintah memastikan titik eksplorasi ditentukan berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah. Seluruh persyaratan administratif juga wajib tuntas, mulai dari Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), hingga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Investasi US$300 Juta dan Aliran Listrik ke Jamali

Jika hasil pengeboran menunjukkan cadangan yang memadai, pengembangan pembangkit membutuhkan suntikan dana besar. Nilai investasi yang disiapkan mencapai 300 juta dolar AS untuk membangun infrastruktur pendukung hingga jaringan transmisi.

Listrik yang dihasilkan nantinya tidak hanya untuk konsumsi lokal. Energi dari Gunung Ungaran akan disalurkan ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali) untuk memperkuat pasokan listrik bersih di pulau Jawa.

Dwi menegaskan, perjalanan proyek ini masih panjang. Selain urusan teknis dan perizinan, keterlibatan masyarakat menjadi syarat mutlak. Rencananya, akan ada serangkaian public hearing dengan warga yang bermukim di sekitar wilayah kerja proyek.

Peta Panas Bumi Jawa Tengah: Dieng Paling Maju

Gunung Ungaran bukan satu-satunya andalan. Jawa Tengah memiliki sejumlah kawasan dengan potensi panas bumi yang tersebar di beberapa kabupaten. Beberapa nama yang masuk daftar pengembangan antara lain Dieng, Baturraden, Guci, Umbul Telomoyo, dan Jenawi.

Dari daftar tersebut, Dieng menempati posisi terdepan. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng telah beroperasi dengan kapasitas 70 MW. Saat ini, pengembangan fase kedua tengah berjalan dengan target tambahan kapasitas 55 MW.

Sementara itu, wilayah lain masih berkutat pada tahap awal. “Yang sudah beroperasi di Dieng 70 MW, on progress fase dua 55 MW. Di Jenawi belum ada kegiatan lagi, di Umbul Telomoyo sudah ada sosialisasi-sosialisasi, Baturraden masih off, di Guci juga masih off,” jelas Dwi.

Dampak bagi Wisata dan Lingkungan Sekitar

Bagi traveler yang sering berkunjung ke kawasan Dieng atau berencana menjelajah Gunung Ungaran, proyek ini patut dipantau. Pengembangan panas bumi biasanya diiringi perbaikan infrastruktur jalan dan akses menuju lokasi, yang secara tidak langsung mempermudah perjalanan wisata.

Namun, aktivitas pengeboran juga berarti ada area yang akan dibatasi untuk umum selama proses eksplorasi berlangsung. Bagi pendaki, penting untuk memantau informasi resmi dari otoritas setempat mengenai penutupan jalur atau perubahan rute pendakian.

Realisasi proyek ini tetap bergantung pada hasil eksplorasi, kesiapan infrastruktur, serta penerimaan masyarakat. Jika semua berjalan sesuai rencana, Jawa Tengah akan memiliki tambahan sumber energi bersih yang signifikan dalam dekade mendatang.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: listrikindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top