KALIMANTAN SELATAN — Registrasi di MIIT menjadi indikasi kuat bahwa BYD sedang menyiapkan generasi baru Atto 1. Berdasarkan dokumen yang beredar, perubahan paling mencolok ada pada dimensi dan sistem penggerak. BYD seolah tidak ingin model ini hanya menjadi mobil listrik murah, melainkan produk yang secara teknis matang.
Ukuran menjadi salah satu lompatan terbesar. BYD Atto 1 terbaru memiliki panjang 4.205 mm, lebar 1.810 mm, tinggi 1.570 mm, dan wheelbase 2.650 mm. Jarak sumbu roda ini naik 150 mm dari model sebelumnya.
Penambahan wheelbase biasanya berdampak langsung pada ruang kaki penumpang baris kedua. Posisi Atto 1 kini semakin mendekati BYD Dolphin dari segi proporsi, yang berarti kabinnya diprediksi jauh lebih lapang untuk penggunaan harian maupun perjalanan antar kota.
Peningkatan paling signifikan justru terjadi di sektor penggerak. BYD mengganti motor listrik lama dengan unit sinkron magnet permanen berkode TZ164XYB. Motor ini menghasilkan tenaga maksimum 95 kW atau setara 127 dk, naik drastis dari model sebelumnya yang hanya 55 kW atau 75 dk.
Kecepatan maksimum diklaim mencapai 150 km/jam. Baterai tetap menggunakan teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) yang terkenal awet, aman, dan biaya perawatannya rendah. Meski bobot ikut naik—varian standar 1.180 kg, tertinggi 1.255 kg—angka itu masih wajar untuk hatchback listrik modern.
Dokumen MIIT juga memperlihatkan adanya opsi kamera yang terintegrasi pada lampu rem bagian atas. Fitur ini memperkuat dugaan bahwa BYD menyiapkan sistem bantuan berkendara yang lebih canggih. Sebelumnya, prototipe Atto 1 sempat terlihat menggunakan sensor LiDAR saat pengujian.
Dari sisi personalisasi, BYD menyediakan variasi pelek aerodinamis, side skirt, spatbor, hingga emblem yang disesuaikan dengan masing-masing pasar. Untuk pasar global, mobil ini kemungkinan dipasarkan dengan nama berbeda seperti BYD Dolphin Surf atau BYD Dolphin Mini.
Dengan dimensi yang lebih besar dan tenaga yang nyaris dua kali lipat, BYD Atto 1 terbaru berpotensi menjadi salah satu pilihan menarik di segmen mobil listrik terjangkau. Jika BYD mampu mempertahankan harga kompetitif—kisaran Rp 200 jutaan—model ini siap menjadi penantang kuat bagi pemain lain di kelas yang sama.
Belum ada konfirmasi resmi dari BYD Indonesia mengenai timeline peluncuran. Namun, registrasi di MIIT biasanya menjadi salah satu tahapan awal sebelum ekspansi ke pasar global, termasuk Indonesia.