Banjarmasin bukan satu-satunya alasan orang datang ke Kalimantan Selatan. Provinsi ini menyimpan kekayaan alam dan budaya yang sering terlewatkan oleh turis yang hanya mampir di ibu kota. Dari pengalaman saya menjelajahi pelosok Kalsel selama dua pekan terakhir, ada beberapa tempat yang benar-benar mengubah persepsi tentang wisata di Pulau Borneo.
Mulai dari wisata air yang hidup selama berabad-abad hingga gua-gua yang masih sepi pengunjung, berikut tujuh destinasi yang layak masuk daftar perjalanan Anda.
Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar tempat jual-beli. Setiap subuh pukul 06.00 WITA, puluhan jukung (perahu tradisional) mulai berdatangan dari desa-desa sekitar Sungai Martapura. Para pedagang, mayoritas perempuan, menjual hasil bumi langsung dari perahu mereka.
Harga tiket masuk Rp10.000 per orang. Sewa perahu untuk keliling pasar sekitar Rp150.000-Rp200.000 per jukung, bisa muat 4-5 orang. Waktu terbaik datang pukul 06.00-08.00 pagi. Kalau datang setelah jam 09.00, sebagian besar pedagang sudah bubar. Lokasi tepatnya di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, sekitar 30 menit dari pusat Banjarmasin.
Dua pulau di tengah Sungai Barito ini jadi rumah bagi kera ekor panjang dan bekantan. Pulau Kembang terkenal dengan kera-kera jinak yang langsung mendekat begitu perahu merapat. Pulau Kaget, sekitar 20 menit perjalanan dari Pulau Kembang, menjadi habitat bekantan—monyet hidung panjang yang jadi maskot Kalimantan Selatan.
Tidak ada tiket masuk resmi, tapi biaya sewa perahu dari Dermaga Kuin sekitar Rp250.000-Rp350.000 per perahu (kapasitas 6 orang) untuk rute Pulau Kembang-Pulau Kaget pulang-pergi. Siapkan camilan untuk kera di Pulau Kembang, tapi jangan bawa kantong plastik terbuka—kera-kera ini cukup agresif kalau melihat makanan.
Gua Batu Hapu terletak di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin. Sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Gua ini punya stalaktit dan stalagmit yang terbentuk jutaan tahun lalu. Yang membedakan dari gua lain di Indonesia adalah keberadaan fosil purba yang ditemukan di dalamnya.
Tiket masuk Rp15.000 per orang. Penerangan di dalam gua terbatas—bawa senter atau headlamp sendiri. Jalurnya cukup menantang, ada bagian yang harus merangkak. Sepatu anti-slip wajib. Kalau habis hujan, lantai gua licin dan beberapa titik tergenang air setinggi betis.
Bekas tambang batu bara yang direklamasi jadi danau dengan air biru kehijauan. Lokasinya di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar. Warna airnya sangat kontras dengan tebing-tebing tanah di sekelilingnya. Pemandangan paling bagus sekitar pukul 15.00-17.00 sore saat cahaya matahari jatuh miring.
Tiket masuk Rp10.000, parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000. Tidak ada biaya tambahan. Kedalaman danau tidak diketahui pasti—pengelola melarang berenang karena arus bawah yang berbahaya. Beberapa warga lokal pernah tenggelam di sini. Nikmati dari tepi saja.
Museum Waja Sampai Ka Puting (Wasaka) di Banjarmasin menyimpan koleksi senjata dan perlengkapan perang dari masa Revolusi Fisik 1945-1949. Namanya diambil dari semboyan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan: "Waja Sampai Ka Puting" (baja sampai ke ujung).
Gratis—tidak dipungut biaya masuk. Buka Senin-Jumat pukul 08.00-15.00 WITA, Sabtu sampai pukul 13.00. Minggu dan hari libur nasional tutup. Lokasi di Jalan S. Parman, tepat di samping Kantor Gubernur Kalimantan Selatan. Koleksi paling menarik: senapan lantak buatan pengrajin Amuntai yang digunakan pejuang lokal.
Air terjun setinggi sekitar 30 meter di kawasan Bendungan Riam Kanan, Kabupaten Banjar. Aliran airnya deras sepanjang tahun karena berasal dari Waduk Riam Kanan. Kolam di bawah air terjun cukup dalam untuk berenang, tapi arusnya kuat—hati-hati.
Tiket masuk Rp10.000 per orang. Parkir motor Rp3.000, mobil Rp10.000. Dari Banjarmasin, perjalanan sekitar 1 jam. Akses jalan cukup bagus sampai area parkir, lalu jalan kaki sekitar 10 menit menuruni anak tangga. Bawa baju ganti—percikan air dari air terjun cukup basah.
Kampung Sasirangan di Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, adalah pusat produksi kain sasirangan—kain khas Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik jumputan dan ikat celup. Proses pewarnaan masih menggunakan bahan alami: kulit kayu, daun, dan akar-akaran.
Tidak ada tiket masuk. Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan dan membeli kain langsung dari perajin. Harga kain sasirangan mulai Rp75.000 untuk ukuran selendang, sampai Rp350.000 untuk kain panjang kualitas tinggi. Proses pewarnaan alami memakan waktu 3-7 hari tergantung warna yang diinginkan.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke Kalimantan Selatan?
Mei-September saat musim kemarau. Sungai-sungai tidak meluap, akses ke gua dan air terjun lebih aman. Hindari Januari-Maret karena curah hujan tinggi.
Berapa biaya transportasi dari Banjarmasin ke lokasi wisata?
Sewa mobil dengan sopir sekitar Rp400.000-Rp600.000 per hari (12 jam, belum termasuk bensin). Untuk rute jauh seperti Gua Batu Hapu, sewa mobil jadi pilihan paling praktis.
Apakah semua lokasi wisata di Kalimantan Selatan ramah untuk anak-anak?
Pasar Terapung, Museum Wasaka, dan Kampung Sasirangan aman untuk segala usia. Gua Batu Hapu dan Danau Biru Pengaron tidak disarankan untuk balita.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi semua destinasi ini?
Minimal 5 hari dengan perjalanan efisien. Dua hari di Banjarmasin dan sekitarnya, tiga hari untuk menjangkau Tapin, Pengaron, dan Riam Kanan.
Apa oleh-oleh khas yang wajib dibawa dari Kalimantan Selatan?
Kain sasirangan, amplang (kerupuk ikan), dan bingka (kue tradisional dari tepung dan telur). Harga amplang di pasar tradisional mulai Rp25.000 per bungkus.
Kalimantan Selatan bukan sekadar singgahan sebelum ke Kalimantan Timur atau sekadar titik transit. Dari sungai yang menjadi urat nadi kehidupan hingga gua-gua yang menyimpan sejarah bumi, provinsi ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Pilih satu atau dua destinasi yang paling cocok dengan minat Anda, lalu luangkan waktu untuk benar-benar menikmatinya—bukan sekadar foto lalu pergi.