Populasi bekantan di kawasan pesisir Sungai Rutas, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, masih terpantau aman di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Ketua Kader Konservasi Rindang Lestari, Syahrani, menyebut api belum menjalar ke tepian sungai yang menjadi ruang hidup satwa dilindungi itu, namun periode transisi menuju musim hujan pada pertengahan Oktober menjadi waktu krusial yang perlu diwaspadai.
RANTAU — Sembilan koloni bekantan yang menghuni pesisir Sungai Rutas di Kabupaten Tapin masih bertahan di tengah ancaman karhutla yang terjadi di sejumlah titik Kalimantan Selatan. Satwa endemik Pulau Kalimantan itu disebutkan belum terdampak langsung karena api belum mencapai kawasan pepohonan di sekitar aliran sungai.
Syahrani menjelaskan, kondisi saat ini berbeda jauh dengan kebakaran besar pada 2015. Saat itu, api menjalar hingga ke pesisir sungai dan menyebabkan puluhan bekantan mati, bukan karena terbakar, melainkan diduga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap pekat.
Berdasarkan pemantauan Rindang Lestari, setiap koloni bekantan di sepanjang Sungai Rutas diperkirakan berisi 25 hingga 30 ekor. Artinya, kawasan ini menampung ratusan individu yang menjadikannya salah satu habitat penting bagi populasi bekantan di Kabupaten Tapin.
"Untuk saat ini masih aman karena kebakaran lahan belum sampai ke pesisir Sungai Rutas. Bekantan memang pola hidupnya berada di pepohonan sekitar sungai," ujar Syahrani kepada ANTARA di Rantau, Kamis.
Syahrani memperkirakan pertengahan Oktober 2026 menjadi periode penting karena Kalimantan Selatan mulai memasuki masa transisi menuju musim hujan. Jika api justru menyasar lahan di pesisir sungai pada rentang waktu tersebut, populasi bekantan dipastikan terancam.
"Kalau sampai pertengahan Oktober kebakaran justru menyasar lahan di pesisir sungai, maka populasi bekantan bisa terancam," katanya.
Ia berharap upaya pengendalian karhutla tidak hanya berfokus pada perlindungan permukiman dan aktivitas masyarakat. Kawasan habitat satwa liar, khususnya tepian sungai yang menjadi ruang hidup bekantan, juga harus menjadi prioritas dalam pencegahan kebakaran.
"Pencegahan kebakaran di sekitar pesisir Sungai Rutas penting dilakukan untuk menghindari terulangnya dampak ekologis seperti yang terjadi pada kebakaran besar 2015," ungkap Syahrani.